Postingan
"Mengapa pH Tanah Harus Segitu?" Pertanyaan yang Muncul di Kelas Privat OSN SMP
Pagi itu, 5 September 2026, sekitar pukul setengah sepuluh, seorang siswa kelas 8 sedang berjongkok di petak taman samping gedung. Satu tangannya menekan batang probe ke dalam tanah. Di rumput sebelahnya tergeletak soil meter, dan selembar lembar data dengan pulpen oranye di atasnya.
Ini bukan kegiatan bersih-bersih taman. Ini pengambilan data ekologi, dan petak taman itu adalah plot penelitiannya hari itu.
Ekologi tidak bisa dipelajari dari dalam ruangan saja
Materi ekologi di OSN IPA SMP selalu berputar di sekitar satu hal, hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya. Komponen biotik dan abiotik, interaksi antar keduanya, dan bagaimana perubahan satu faktor menggeser yang lain.
Soalnya sering berupa tabel data lapangan yang harus dianalisis. Masalahnya, banyak siswa belajar membaca tabel semacam itu tanpa pernah sekalipun mengisi tabel serupa dengan tangannya sendiri. Akibatnya angka-angka di soal terasa abstrak.
Jadi kelas hari itu dimulai dari luar. Bukan dari buku.
Yang diukur langsung di lapangan: suhu udara, suhu tanah, kelembapan tanah, intensitas cahaya, dan pH tanah. Semua dicatat di lembar data, titik demi titik, lengkap dengan kondisi vegetasi di sekitarnya.
Dari taman, pindah ke meja lab
Sampel tanah dibawa masuk. Di meja lab, sampel dilarutkan dengan air, diaduk sampai merata, lalu didiamkan agar partikelnya mengendap. Airnya kemudian diuji dengan kertas indikator pH universal.
Sebagian sampel disisihkan untuk dua hal lain, yaitu pengamatan mikroba tanah di bawah mikroskop, dan penghitungan kepadatan organisme tanah.
Bagian penghitungan kepadatan ini yang biasanya mengubah cara pandang siswa. Segenggam tanah yang tadinya terlihat seperti tanah biasa ternyata dihuni banyak sekali makhluk. Setelah menghitungnya sendiri, kalimat "tanah adalah habitat" berhenti jadi hafalan.
Pertanyaan yang tidak ada di lembar kerja
Di tengah pengujian pH, muncul pertanyaan yang tidak diminta di lembar kerja
"Mengapa pH tanah harus di rentang tertentu supaya cocok untuk tanaman?"
Pertanyaan seperti ini yang bikin kelas privat jadi berharga. Tidak ada yang perlu ditunda sampai sesi tanya jawab di akhir, dan tidak ada 20 anak lain yang harus menunggu.
Jawabannya begini.
pH tanah tidak berpengaruh langsung ke akar. Yang dipengaruhi adalah ketersediaan hara, apakah unsur-unsur di dalam tanah bisa larut dan diserap akar, atau justru terikat dan tidak bisa diambil.
- Tanah terlalu asam (pH rendah). Fosfor terikat oleh besi dan aluminium sehingga sulit diserap. Di sisi lain, aluminium dan mangan malah jadi terlalu mudah larut, dan dalam kadar tinggi keduanya meracuni akar.
- Tanah terlalu basa (pH tinggi). Kebalikannya. Fosfor kini terikat oleh kalsium, sementara besi, seng, dan mangan jadi sulit larut. Ini sebabnya tanaman di tanah basa sering menguning daunnya meski unsur haranya sebenarnya ada di dalam tanah.
Sekitar pH 6–7. Di rentang inilah jumlah unsur hara yang tersedia bersamaan paling banyak. Bakteri pengurai dan bakteri nitrifikasi juga bekerja paling optimal di kisaran ini.
Jadi "cocok" bukan soal tanaman suka asam atau basa. Ini soal pada pH berapa makanannya bisa diambil.
Ikut kelas berikutnya
Kelas privat OSN IPA SMP di Bionas Playlab terbuka untuk siswa kelas 7–9 yang sedang persiapan olimpiade sains. Materinya mengikuti silabus praktikum OSN, ekologi, klasifikasi, sel, sistem organ, pewarisan sifat, bioteknologi, dan lainnya.
📍 Plaza Airlangga Lantai 2, Kampus C Unair, Surabaya 💰 Rp 200.000 per sesi 📝 Daftar di www.bionaslab.com atau WhatsApp 0812-1765-8441

